Kamis, 10 Februari 2011
Kamis, 20 Januari 2011
Senin, 17 Januari 2011
Selasa, 09 November 2010
Aku datang untuk orang berdosa, bukan untuk orang saleh
“Dosa” menurut kaum Farisi dan ahli Taurat adalah tidak mentaati hukum dan adat istiadat keagamaan Yahudi. Orang yang dapat mentaati hukum itu adalah kalangan terbatas: para rabi, sementara umat tidak mungkin melaksanakan karena keterbatasan pengetahuan ataupun keuangan (untuk biaya membeli bahan persembahan di kenisah sesuai dengan aturan). Mereka membuat aturan dari mencuci tangan dan kaki sebelum makan, sampai soal penghormatan mutlak terhadap Hukum Sabat dengan tidak berbuat apapun juga. Pemungut cukai dianggap orang pendosa berat karena memang kerap kali menarik cukai di luar kewajaran. Namun mengapa Yesus memanggil Matius? Yesus mau menjungkirbalikkan jalan pikiran orang Farisi dan ahli Taurat yang beranggapan bahwa mereka dapat menyelamatkan diri sendiri dari hukuman kekal dengan usahanya sendiri berbuat baik, yakni ketaatan terhadap hukum Taurat dan adat istiadat Yahudi. Jadi orang yang tidak taat akan mengalami kebinasaan.
Sikap Yesus yang mau makan bersama dengan orang pendosa dan pemungut cuka mengubah radikal jalan pikiran “keselamatan” itu. Keselamatan bukan melulu diusahakan manusia melainkan pertama-tama karunia Allah yang serta merta cuma-cuma. Allah berinisiatif memanggil orang berdosa untuk kembali menjadi anak-Nya. Keselamatan itu buah kasih Allah yang maharahim. Karena itu, yang dimohon dari pihak manusia bukanlah kesombongan: merasa diri menjadi orang saleh, tetapi justru pengakuan sebagai orang berdosa. Bagaikan sebuah botol berisi air keruh, mustahil dapat diisi air jernih kalau tidak dikeluarkan dulu, demikian juga, hati manusia tidak mungkin dimurnikan kalau manusia tidak terbuka untuk dibersihkan hatinya oleh Allah.
Siapakah kita? Kita akan menjadi orang yang mengaku diri yang sakit dan berdosa dan mohon pengampunan, atau mengaku diri orang yang merasa sehat dan saleh sehingga tidak lagi membutuhkan Yesus?
Tuhan Yesus Memberkati.
Senin, 11 Oktober 2010
Besok Mubes Nababan di Jetun Silangit
Senin, 30 Agustus 2010
Debu Vulkanis Muncul Lagi dari Gunung Sinabung

Kompas yang berada d Desa Beganding, Kecamatan Simpang Empat, merasakan getaran yang cukup hebat di sekitar lokasi. Beberapa warga segera mengevakuasi diri menggunakan kendaraan. (Kompas)
Baca selengkapnya...Sabtu, 28 Agustus 2010
Rekonstruksi Pembunuhan Ayah dan Anak

Rekonstruksi dilakukan di rumah korban di Dusun X Desa Simodong, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara. Dalam Rekonstruksi itu pihak kepolisian menghadirkan tersangka Resi Prayogi dan tiga orang saksi yang merupakan tetangga korban yakni Yenni Fatmawati, Jumirin dan Taufik Hidayat.
Rekonstruksi dilakukan sekitar satu jam lamanya tepatnya dari pukul 10.30 WIB hingga 11.300 WIB. Dalam rekontruksi, tampak tersangka yang didampingi penasehat hukumnya J Sihombing SH dan turut hadir pihak Kejaksaan Labuhan Ruku.
Tersangka memperagakan 10 adegan yakni mulai saat ia pulang ke rumah setelah bertemu pacarnya, lalu bertemu dengan korban, sampai menghabisi nyawa kedua korban setelah lehernya dibacok oleh tersangka dan menikamkan parang kepada kedua tersangka.
Dalam adegan Rekonstruksi terungkap, pada malam kejadian itu, setelah pulang berpacaran, sekitar pukul 22.30 WIB, tersangka lewat di samping rumah korban. Tiba-tiba tersangka ditegur korban Jaya Sukmana. Saat itu Jaya melarang tersangka melewati jalan tersebut. Bukan hanya itu, Jaya juga meludahi wajah tersangka.
Awalnya tersangka hanya diam mendapat perlakukan dari Jaya. Tersangka terus saja menuju ke rumahnya. Namun tak berapa lama, tersangka mendatangi korban Jaya Sukmana dengan tujuan meminjam parang.
Kepada Jaya, tersangka mengatakan ia meminjam parang karena ingin membersihkan lumpur yang lengket di sandal tersangka.
Tanpa curiga dan tidak memiliki prasangka buruk, korban Jaya Sukmana mempersilahkan korban untuk mengambil parang yang berada di dalam rumahnya. Korban dengan cuek kembali duduk di kursi semula i sambil nonton TV dan menelpon seseorang. Setelah dipersilahkan masuk, tersangka pun masuk ke rumah korban dan menutup kembali pintu rumah korban.
Kemudian tersangka mengambil parang yang hendak di pinjamnya tersebut. Mengetahui korban Jaya Sukmana tetap asyik duduk di bangku sambil nonton dan sedang menelpon seseorang, tiba-tiba tersangka teringat dengan perkataan korban yang selalu menghinanya dan meludahinya. Lalu timbul niat tersangka untuk menghabisi nyawa korban.
Tersangka kemudian diam-diam menghampiri korban dari belakang dan tersangka langsung membacok kepala dan leher kanan korban. Tanpa sempat mengelak dan melakukan perlawanan, Jaya langsung terkapar di lantai bersimbah darah dengan leher nyaris putus.
Mendengar ada suara ribut-ribut di ruang tengah, Poniran ayah dari Jaya Sukmana terkejut dan mendatangi asal suara keributan. Setelah sampai di ruang tengah, Poniran kaget melihat anaknya sudah terkapar bersimbah darah, dan Poniran melihat tersangka memegang parang yang masih basah oleh darah anaknya.
Lalu Poniran berteriak: “Apa yang sudah kau lakukan terhadap anakku.” Lalu teriakan Poniran dijawab oleh tersangka dengan nada dingin dan tersangka berkata kepada Poniran: “Biarkan saja, itulah akibat selalu menghinaku,” ujar tersangka.
Tanpa ingin berlama-lama dan tak ingin ada yang mengetahui perbuatan sadisnya, tersangka kemudian dengan sadisnya menyerang Poniran. Leher Poniran dibacok tersangka dan Poniran pun terkapar bersimbah darah.
Usai membantai ayah dan anak tersebut tersangka lalu meninggalkan kedua korban sambil membawa HP, parang yang digunakannya untuk menghabisi kedua korban.
Proses rekonstruksi yang dipimpin langsung oleh Kapolsek Indrapura AKP A Manullang yang didampingi Kanit Reskrim Aiptu Tagam Simanjuntak menyedot perhatian ratusan warga.
Warga datang berbondong-bondong dan berusaha dengan segala cara untuk menyaksikan jalannya rekonstruksi. Tak sedikit warga yang naik ke atap rumah atau memanjat pohon agar bisa melihat Rekonstruksi tersebut.
Seusai rekonstruksi, pelaku dibawa petugas kepolisian meninggalkan TKP. Pelaku tampak berpakaian biru ciri khas tahanan, dengan tangan yang diborgol.
Sekedar mengingatkan, Jaya Sukmana dan ayahnya Poniran tewas dibunuh Resi Prayogi, Selasa (10/8) sekitar pukul 23.30 WIB. Keduanya ditemukan tewas dengan kondisi leher yang hampir putus, kepala terbelah. Pembunuhan tersebut terjadi di rumah korban. (Metro/mag-08)
Baca selengkapnya...
